MEMINIMALISIR PEMBERIAN GIZI BURUK DARI ORANG-ORANG YANG KURANG BERTANGGUNG JAWAB
MEMINIMALISIR
PEMBERIAN GIZI BURUK DARI ORANG-ORANG
YANG KURANG BERTANGGUNG JAWAB
Zida
Amali
D3-Gizi
Penerimaan gizi disetiap orang pastinya berbeda-beda, dari sisi makanan
maupun gaya hidup yang kurang sehat dan kurang diperhatikan. Penyediaan makanan
sehari-hari juga belum tentu sesuai dengan prosedur gizi seimbang. Mengapa gizi
sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh? Karena status gizi, penyakit,
yang ditimbulkan, kesehatan, tingkat kecerdasan, dan daya tahan tubuh
ditentukan oleh gizi yang dikonsumsi sehari-hari. Maka dari itu, jika
menginginkan hidup dengan gizi seimbang hendaknya mengikuti prosedur yang sudah
ditentukan didalam materi ilmu gizi.
Plagiasi yang sering ditemui hingga saat ini yaitu dalam media
elektronik Di zaman yang sangat modern ini, sangat mudah mendapatkan
informasi masalah gizi diberbagai media
elektronik, dari sisi positif maupun negatif. Orang awam yang kurang faham
tentang penggunaan atau pencarian informasi dari media elektronik pasrinya
banyak menemui kesalahan yang tidak disadari, contohnya dari website yang
kurang bertanggung jawab dengan mudahnya mengunggah informasi tidak sesuai dan
itu termasuk dalam plagiasi. Menurut Patak dan Akib (2017:18), “referensi baik
blogspot maupun wikipedia sewaktu-waktu dapat diubah oleh penulis atau adminnya
bahkan linknya rawan berubah. Karya ilmiah yang dibuat dengan cara referensi
seperti ini tidak dapat divalidasi ketika disubmit di jurnal internasional
ternama”. Untuk menghindari terjadinya plagiasi, maka harus faham dan mengerti
isi dari materi yang dituliskan dan siapa yang mengupdate materi tersebut. Apalagi
yang dituliskan adalah materi yang sangat penting yang berkaitan dengan gizi
seimbang dan menyangkut pada masyarakat.
Ada beberapa orang yang mendefinisikan tentang pengertian plagiarisme,
salah satunya menurut Indriati (2015:2),
“definisi plagiarisme adalah menggunakan karya orang lain seolah-olah karyanya
sendiri. Karya orang lain yang seolah-olah dianggap karya sendiri baik sebagian
atau seluruhnya ini, ada unsur niat/ intensi, dan tersirat trdapat kesengajaan,
atau tanpa intensi akibat tidak tahu cara menyitasi parafrasa”. Dan ada contoh
yang menunjukka seseorang yang melakukan plagiarisme terlihat dari tingkah
lakunya. Menurut Indriati (2015:25), “kecurigaan akan terjadinya plagiarisme
juga terkadang muncul ketika ekspresi yang kita temui disuatu tulisan tampak
sangat berbeda dibandingkan dengan ekspresi orang yang sama dalam komunikasi
lisannya”.
Menurut Barnum (2000:6), “seseorang harus bisa menulis ketika memiliki
suatu ide yang belum pernah dikemukakan orang lain, suatu solusi yang belum
pernah diterapkan orang lain, suatu perspektif segar terhadap suatu masalah
lama, suatu masalah baru yang yang belum dikenali orang lain”. Dan beberapa
tips menghindari plagiarisme, yaitu: Menjelaskan dan menuliskan asal tulisan yang didapatkan, mencatat
berbagai sumber yang didapatkan dengan jelas, menuliskannya dengan bahasanya
sendiri, melakukan interpretasi seperlunya saja, menggunakan dan menyertakan
aplikasi anti plagiasi, dan lain-lain. Serta untuk meningkatkan kualitas
sesorang dalam meminimalisir terjadinya plagiasi harus mempelajari mata kuliah
bahasa Indonesia, menurut Widiantoro (2017), “Sesuai dengan
karakteristik peserta didik yang termasuk generasi Z, penduduk asli digital,
atau berada pada era digital, kegiatan pendidikan BIPA dapat dilakukan berbasis
blended learning. Kegiatan pendidikan dapat menggabungkan keunggulan pertemuan
daring dan luring serta kombinasi media dan model pembelajaran”.
Pentingnya penulisan
dan pencarian materi serta informasi dari suatu blog atau wabesite tertentu
tidak dengan plagiasi membuat para pengejar kesehatan untuk memenuhi gizi
seimbang menjadi lebih aman terkendali, karena adanya seorang penulis yang professional
yang mengutamakan kejujuran serta ilmu yang dimilikinya. Menurut Santana (2007:77),
“secara ringkas penulis laporan kualitatif mesti memperhatikan unsur-unsur
kunci tersebut. Yang bila diurut, unsur-unsur tersebut akan tersusun ke dalam
struktur penulisan pada umumnya, yakni: beginning (awal), middle (tengah), dan
end (akhir)”. Sedangkan menurut Widiantoro (2017), “Produk akhir kegiatan
pengembangan bahan ajar B adalah (1) silabus, (2) bahan ajar, (3) sajian bahan
ajar, dan (4) petunjuk peng-gunaan. Bahan ajar ini terdiri atas (1) iden-titas
BI, (2) membaca dan mengolah tulis-an/artikel ilmiah, (3) menulis karya ilmiah,
dan (4) berbicara untuk keperluan akademis”.
Semua materi tentang
kesehatan itu penting, apalagi masalah gizi yang menyangkut kesehatan pribadi
setiap orang. Hendaknya apabila ingin mencari informasi melalui wabesite
tertentu, lebih mengutamakan informasi yang jelas dan tepat seperti yang telah
dijelaskan diatas, dan jangan mudah menerima informasi dari orang-orang yang
kurang bertanggung jawab. Apabila seseorang telah melakukan plagiasi maka orang
tersebut akan mendapatkan sanksi sesuai ketetapan yang sudah berlaku.
DAFTAR RUJUKAN
Indriati,
E.(Ed). 2015.Strategi Hindari Plagiarisme.
Jakarta: PT
Gramedia Pustaka.
Jafar,
B. M. (Ed). 2017. Hindari Plagiat dengan
Mondeley.
London: United Kingdom.
Santana,
S. 2007. Menulis Ilmiah: Metode Penulisan Kualitatif.
Jakarta: Yayasan Obor Utama.
Widyastuti,
P. (Ed). 2000. Penulisan & Penerbitan Buku:
Pengantar untuk Perawat. Jakarta: Buku
Kedokteran.
Widiantoro,
D. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Matakuliah
Bahasa Indonesia Berbasis Web Interakti.
Widiantoro,
D. 2017. Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk
Komentar
Posting Komentar